Burn Your Idol adalah sebuah proyek seni yang mengumpulkan 1000 CD-R dari album-album rekaman favorit anak muda di Indonesia. Presentasi proyek ini berupa sebuah instalasi rak yang berisikan 1000 CD-R, sebuah CD player dan earphone. Tiap CD disertai dengan sampul depan (sleeve) dan sampul belakang (tray card). Sleeve menampilkan foto potret dan nama responden, Tray card berisikan sampul album favorit, nama band, judul album dan komentar responden tentang album favoritnya ini.

Seiring dengan munculnya optical disc drive dengan alat perekam yang murah di pasaran, praktik merekam audio CD orisinil menjadi aktivitas yang populer di kalangan penggemar musik di Indonesia. Hal ini sudah terjadi juga pada jaman kaset masih sangat berjaya dan ketika CD atau mp3 belumlah populer. Aktivitas ini tentu saja berbeda dengan yang dilakukan oleh produsen pembajak CD. Para penggemar musik ini melakukan praktik tersebut tidak untuk diproduksi dalam jumlah yang banyak dan tidak untuk diperjual-belikan. Ada 2 alasan utama melakukan praktik ini: 1. Karena tidak mampu membeli CD orisinil, 2. Menggandakan CD orisinal untuk dipinjamkan atau diberikan ke orang lain sebagai gift. Tidak hanya CD orisinal saja yang direkam, bahkan format digital audio seperti Wave, MP3 atau ogg juga 'dijadikan' CD. Saat ini, seorang DJ dengan penghasilan pas-pas-an pun hanya bermodalkan CD-R hasil encoding dari format MP3 atau audio CD orisinil. Bagi penggemar musik fanatik yang berkantong cekak, hasrat untuk menjadi kolektor CD terfasilitasi dengan praktik ini meskipun di dalam hardisk drive nya sudah tersimpan ribuan lagu-lagu dalam format MP3. Dalam kacamata hukum, hal ini tentu saja merupakan praktik yang ilegal.

Proyek ini bertujuan untuk merepresentasikan gejala sosial-budaya tersebut dan berupaya untuk menampilkan pengaruh sebuah produk budaya pop (dalam hal ini adalah musik) pada identatisas anak muda di Indonesia saat ini. Proyek ini bukan untuk menjadikannya sebagai kampanye yang mendukung pembajakan atau advokasi terhadap praktik duplikasi.


English:
Burn Your Idol
is an art project initiated by Wok The Rock (Indonesia) which is collecting one thousand CD-Rs of Indonesian youngster's most favourite record albums. The result is an installation featuring a CD rack, CD player and a headphone. Each CD completed with a portrait and name of respondent as the front cover sleeve, a back side of the sleeve featuring the tracklist, original album art and respondent's testimonial about how this record inspiring his/her life.

Within the rise of massive optical disk drive production with a duplicator feature which is so easy found and cheap in the market, an original CD duplicating practice became a popular activity among music fans in Indonesia. This practice absolutely different with the CD piracy producer. It was done not to be a comercial practice. They're not selling it. There are two reasons: First, just because they have not much money to buy an original CD; Second, they duplicating original CD to make it as a gift and to make a backup, as an archive and so as to keep the original safe. Actually, not only original CD duplicated. The digital audio format like MP3, WAV, OGG or FLAC -which was got from downloding- often 'degenerate' to CD-R.
Today, a DJ playing his/her music from a CD-R, a decoded CD. Also for a music fan, an ambition to be a record collector had been facilitated by this practice even there are tons of MP3 files on their hardisk drive. Of course, in a common law and regulation this is illegal.

The project title derived from a Sonic Youth's EP entitled "Kill Yr Idols" which was originally released only in Germany. The word 'Burn' taken from a term in optical disc authoring (a process of assembling source material—video, audio or other data—into the proper logical volume format to then be recorded ("burned") onto an optical disc (compact disc or DVD).

This aim is to representing a socio-cultural phenomenon and try to present an effect of a popular culture and its recent technology in Indonesian youth identity. This project is not an advocation campaign to bolster up piracy.
 
       


 
 
Design by Ruang Laba. Tweede font by Eric Wiryanata.